Rabu, 08 Agustus 2012 0 Komentar

Jebolan Ngruki, dari Preman sampai Bos Minyak

Setiap kali isu terorisme mencuat, nama Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah selalu dikait-kaitkan, baik pengasuhnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir maupun alumni pondok ini. Namun, siapa sangka alumni ponpes tersebut justru ada yang menjadi preman dan belajar jauh ke Amerika.

Dewan Syuro Ikatan Keluarga Alumni PP Islam Al Mukmin Ngruki (IKAPPIM), Muhamad Ali Usman, mengatakan selama ini Ngruki seolah-olah sangat identik dengan terorisme. Setiap kali ada isu terorisme, Ngruki selalu disangkutpautkan. “Padahal lulusan Ngruki itu yang jadi polisi banyak, tentara juga banyak,” kata dia kepada VIVAnews di Solo, Senin 9 Agustus 2010.
Minggu, 05 Agustus 2012 0 Komentar

Who kicked the cat ?

Before you answer this question, read the story in full.

A person used to work as a secretary for a very ill-mannered manager who did not have a single skill of dealing with people. This manager used to accumulate his workload and take upon his shoulders burdens he could not bear. One day, he called his secretary, so he entered and stood in front of him.

The secretary said, “Yes. How may I help, sir?”

He said, “I called your phone but you never answered!”

The secretary replied, “That was because I was in the other room. I am sorry, sir!”

He replied, “You are always saying sorry! Take these papers and give them to the head of the repair department, and return quickly!”

The secretary, being annoyed, went to the office of the repair department’s head and threw the papers on his desk and said, “Do not take long with these papers!”

The man became irritated at the secretary’s behaviour and said, “OK, but please, place them on the table appropriately!”

The secretary replied, “Appropriately or inappropriately, it does not matter! What is important is that you finish with the papers quickly!”

They argued and insulted each other until voices were raised, after which the secretary went back to his office.After a couple of hours, one of the minor workers in the repair department went to his Head and said, “I will now go to collect my children from school and return shortly.”
Sabtu, 04 Agustus 2012 0 Komentar

Tanpa titik

Puluhan orang berlalu-lalang memenuhi ruangan ini, sebuah ruang menempel di langitnya beberapa kipas angin ukuran besar, berputar dengan suara yang cukup kencang didengar di tengah keriuhan tempat ini, orang-orang berkelompok dan berbincang entah membicarakan apa, tapi yang pasti suara mereka bagaikan kumpulan lalat terbang jika didengar dari kejauhan, 

hawa pengap sedikit panas dapat dirasakan dari pojok ruangan ini, satu orang dengan keringat membasahi dahi terlihat kuat sedikit memaksa untuk mengaduk sebuah adonan putih besar, satu orang lain dengan baju yang sulit untuk digambarkan memalui tulisan cepat membagi adonan itu menjadi adonan kecil ukuran kepalan tangan dewasa, satu orang lagi membentuk adonan tadi menipis sebesar piring kemudian memasukkan ke sebuah alat panas berbentuk cekungan dan menempelkan ke dindingnya, tidak lama adonan panas itu dia ambil dengan dua besi panjang dengan pengaitnya yang terlihat cukup tajam jika hanya sekedar menusuk daging manusia, 

tidak begitu tertarik dengan adonan ini, berpaling ke satu orang yang lain, dia sudah terlalu tua untuk bekerja keras seperti ini, membentuk adonan tadi menipis dan melempar ke sebuah lempengan besi panas, membuat beberapa formasi adonan, memutar-mutar, membolak-balik dan melempar percikan minyak hingga terlihat asap putih tanda kegosongan, menjepit dengan sebuah lempengan besi yang terlihat berkarat, melemparnya ke sebuah tempat berbentuk lingkaran dengan landasan koran yang sudah sedikit usang, beberapa orang terlihat beradu cepat menggapai adonan tadi, tidak jarang keluar cacian dari mereka yang menderita kekalahan, sedikit senang karena ditakdirkan untuk menang, 

suara bising orang-orang masih terdengar begitu kencang, seakan menunjukan mereka enggan untuk pulang, beberapa bulan yang lalu sebelum datang bulan agung nan suci, masih di tempat ini, adalah biasa melihat orang meminum air dari teko besi itu dengan gelas bening yang tersedia di meja, tapi ada yang aneh hari itu, dia merasa gelas itu tak sebersih yang dikira, dengan memaksa tampil gagah melangkah keluar menuju tempat tangan manusia dibasuh dan dibersihkan, masih terus memperhatikannya, dia mencuci dengan begitu detail setiap bagian dari gelas itu, sedikit memberikan rasa kagum dan takjub padanya, kemudian terlihat dia isi gelas tadi penuh dengan air pancuran tadi, memasukan beberapa teguk air, berkumur dan membersihkan mulutnya mungkin, tapi ada satu keganjalan terjadi, kemana perginya air yang ia masukan untuk berkumur tadi, dia penuhi lagi gelas bening itu masih dengan pancuran yang mungkin dia anggap suci, seperti seolah berkumur tapi entah kemana air itu tidak kembali, hilang sudah nafsu santap makan pagi,,,

By : ibnu abiihi
Rabu, 01 Agustus 2012 0 Komentar

Surat Ustadz Abu Bakar Ba'asyir untuk presiden Myanmar




Source : voa-islam.com
0 Komentar

Menjawab Adzan dan berdo’a setelahnya

Disunnahkan bagi seorang yang mendengar adzan untuk menjawabnya, yaitu dengan cara mengucapkan kalimat seperti yang diucapkan oleh muadzin. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa sallam.

“Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan muadzin." Sunan at-Tirmidzi  (I/134 no. 208)

Disunnahkan juga untuk mengucapkan kalimat ‘Laa haula walaa quwwata illaa billaah’ ketika menjawab kalimat Hayya 'alash shalaah dan Hayya 'alal falaah.

Dari Umar bin al-Khatab Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda “Jika muadzin mengucapkan ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.’ Maka hendaklah salah seorang di antara kalian mengucapkan ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.’ Kemudian jika muadzin mengucapkan ‘Asyhadu allaa ilaaha illallaah.’ Maka ia mengucapkan ‘Asyhadu allaa ilaaha illallaah.’ Kemudian jika muadzin mengucapkan ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah.’ Maka ia mengucapkan ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah.’ Kemudian jika muadzin mengucapkan ‘Hayya 'alash shalaah.’ Maka ia mengucapkan ‘Laa haula walaa quwwata illaa billaah.’ Kemudian jika muadzin mengucapkan ‘Hayya 'alal falaah.’ Maka ia mengucapkan ‘Laa haula walaa quwwata illaa billaah.’ Kemudian jika muadzin mengucapkan ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.’ Maka ia mengucapkan ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.’ Kemudian jika muadzin mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah.’ Maka ia mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’ dengan hati yang tulus, maka dia akan masuk Surga." Riwayat muslim (1/288)
 
;