Rabu, 08 Agustus 2012

Jebolan Ngruki, dari Preman sampai Bos Minyak

Setiap kali isu terorisme mencuat, nama Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah selalu dikait-kaitkan, baik pengasuhnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir maupun alumni pondok ini. Namun, siapa sangka alumni ponpes tersebut justru ada yang menjadi preman dan belajar jauh ke Amerika.

Dewan Syuro Ikatan Keluarga Alumni PP Islam Al Mukmin Ngruki (IKAPPIM), Muhamad Ali Usman, mengatakan selama ini Ngruki seolah-olah sangat identik dengan terorisme. Setiap kali ada isu terorisme, Ngruki selalu disangkutpautkan. “Padahal lulusan Ngruki itu yang jadi polisi banyak, tentara juga banyak,” kata dia kepada VIVAnews di Solo, Senin 9 Agustus 2010.

Bahkan, ia pun menyebutkan kalau alumni ponpes yang diasuh Ba’asyir ini ada yang menjadi preman. Sebut saja, salah satu preman penguasa di di terminal terbesar di Jawa, merupakan alumni Ponpes Ngruki. “Ya, preman seperti pada umumnya. Di tubuhnya juga banyak tato. Itu pun lulusan Ngruki,” ujarnya dengan terkekeh.

Selain itu, ada dua orang alumni Ngruki yang juga menduduki jabatan pemimpin di perusahaan minyak terbesar di dunia asal Amerika Serikat. Tidak hanya itu, ponpes yang terletak sekitar 4 kilometer dari pusat Kota Solo ini juga berhasil mendudukkan beberapa alumninya menjadi anggota dewan.

“Santri Ngruki itu ada yang menjadi anggota dewan dari PDIP. Ada juga yang menjadi bankir dan memimpin perbankan terbesar di Indonesia,” sebut Usman.

Terkait dengan cerita para alumni tersebut, Usman mempunya cerita menarik terkait dengan almameter Ponpes Al Mukmin Ngruki. Cerita ini bermula tatkala santri ponpes itu menunggu bis di salah satu terminal. Tiba-tiba ia kecopetan dan merasakan hilang dompet dari sakunya.

Nah, santri yang malang kecopetan itu pun mengeluh kalau dompetnya baru saja hilang dicopet. Tanpa panjang lebar, ia pun mengaku kalau santri Ponpes Al Mukmin Ngruki. Tidak berselang lama, sang penguasa terminal itu langsung turun tangan dan mengembalikan dompetnya.

“Kejadian seperti itu telah berkali-kali dialami santri Ngruki di terminal itu. Tapi, ketika mengaku santri Ngruki pasti langsung kembali,” kata dia dengan terkekeh.

Saat ini jumlah alumni santri Ngruki yang terdaftar sekitar 7000 orang. “Itu baru yang terdaftar. Mungkin kalau dijumlahkan sama yang belum terdaftar jumlahnya bisa lebih,” sebutnya. Ia pun mengatakan, meski terlihat bergaris keras, akan tetapi alumni Ngruki banyak yang melanjutkan studi ke Amerika maupun Eropa.

“Namun, jumlah itu jika dibandingkan dengan yang kuliah di Timur Tengah, ya lebih banyak yang di Arab,” terangnya.

source : vivanews

0 Komentar:

Posting Komentar

 
;